"Sayang, jangan tidur dulu. Aku lupa bawa kunci serep. Oh ya, aku lagi di luar. Kamu mau nitip makan apa?"
"Aku dibelikan jus aja, Sayang.", "Loh, nasi goreng gak mau kah?", "Jangan! Aku gak mau makan jam segini. Ntar bikin gendut ah. Haha. Jus aja ya, Sayang.", "Oke. Tunggu aku kalau gitu. Jangan tidur dulu. Love you, Dear."
Aku tertawa membaca lagi pesan yang kau kirim ke inbox handphoneku. Itu kebiasaan kita sewaktu masih menjadi sepasang kekasih. Begitu mesra. Layaknya kita berdua sudah sama-sama dalam satu rumah. Indah, ya?
Seindah aku merindukan saat kau menggenggam erat tanganku di waktu tiga-bulan-sekali kita bertemu.
Seindah aku melihatmu dalam salamku saat kita sembahyang berjamaah.
Semua memang serasa aku utuh memilikimu. Dulu tapi. Sekarang jalanmu menjadi jalanmu sendiri, tanpa aku boleh ikut campur lagi.
Entahlah, aku menjadi sangat rindu berada dalam satu motor di belakangmu. Bercerita tak ada henti selama perjalanan. Dan kau? Dengan sabar mendengarkan tanpa banyak komentar. Aku bercerita tentang bagaimana aku di sekolah, bagaimana aku mengeluhkan berbagai masalah, dan yang terpenting adalah bagaimana aku menjalani hari-hari tanpamu saat memang keputusan "Long Distance Relationship" kita pilih.
Hei, Kau! Yang pernah jadi seorang yang sangat tercinta.
Masih ingat kah saat kita berdua jalan di pantai. Berlari. Saling dorong. Bermain ombak. Pasir. Masih ingat ?
Bukankah itu menjadi kenangan yang paling kita senangi. Saat itu kau bebas memelukku. Kita tertawa lepas.
Berharap waktu mau berhenti saat itu juga. Aku tak mau dilanjutkan ke jam berikutnya. Atau ke bulan berikutnya. Yang ujungnya malah kita berpisah.
Kau yang dulu selalu menepati janji untuk pulang dari pondok setiap malam minggu dan menemaniku lewat telepon.
Masih ingat kah saat diam-diam kau selalu merekam pembicaraan kita. Saat diam-diam kau merekamnya di bagian aku ucapkan "Love you too". Kau puas mendengarkan aku ucapkan kata indah itu. Dan aku? Aku selalu kau buat malu saat tiba-tiba kau mengungkit itu. :)
Dan Kau! Yang sejak Enam November lalu berganti status menjadi "Hanya Teman-Ku". Terima kasih banyak, kau sempat menginginkan aku menjadi ibu dari anak-anakmu nanti. Terima kasih banyak, untuk memimpikan aku menjadi yang kau lihat pertama saat kau lelah. Terima kasih untuk setiap waktumu bersabar menghadapi sifat kekanak-kanakanku.
Semua sudah berubah sekarang. Waktu yang semakin mendewasakan kita. Yang jelas, kadang aku cemburu. Kini bukan aku lagi yang mampu menyelipkan jari-jariku pada jemarimu, melainkan dia yang baru.Aku tak pernah menyesalkan semua. Aku justru bangga. Sempat berada di sisimu meski dalam waktu sekejap.
Dia yang kau pilih dan mengalahkanku itu adalah dia yang memang jauh lebih baik dari aku. Dia yang berjilbab lebar. Dia yang bercadar. Dia yang begitu mencintaimu kuat, melebihi aku.
Dan aku tak mendoakanmu apa-apa, melainkan hanya semua yang terbaik semoga kamu dapatkan.
Maaf, aku melanjutkan pencarian siapa pemilik tulang rusuk yang menjadi tulang rusukku juga.
Dan itu ternyata bukan kamu.
"Never mind, I’ll find someone like you,
I wish nothing but the best for you, too,
Don’t forget me, I beg,
I remember you said,
“Sometimes it lasts in love,
But sometimes it hurts instead,”
Sometimes it lasts in love,
But sometimes it hurts instead, yeah."
Song by: Adele - Someone Like You :*
#Dari AKU, yang wajahnya sering dibilang mirip denganmu. :')
With Love,
AisyaDz.
*Fiksi*
0 komentar:
Poskan Komentar