Selasa, 17 Januari 2012

"Aku Bercerita Tentang Keluargamu, a'."

Masih teringat utuh, bagaimana pertama kalinya aku menemui keluargamu,a'. Tangan terasa kaku dan tubuhku mulai gemetar.
Bahagia itu ternyata konsepnya sangat sederhana. Dapat diterima dengan baik oleh keluargamu saja, sudah menjadi hal yang luar biasa menggugah. Membahagiakan.


"Alhamdulillah, akhirnya bisa kesini juga." Pelukan hangat, cium pipi kanan pipi kiri khas mamamu a'. Aku girang.
Saat itu, aku dan mama sama memakai gamis ungu. Mama masih terlihat begitu cantik, dan masih muda. Aku minder.
Aku dipersilahkan duduk oleh beliau.
Kemudian, dinda si kecil tomboy yang hiperaktif itu langsung menyapaku entah dengan gaya manjanya. Aku tertawa. Gemas. Mirip adikku. Hanya saja adikku lebih endel. :D
Selama satu jam, pembicaraanku dengan mama mengalir begitu mulus. Teh yg tadinya hangat, semakin mendingin, aku lebih asyik sibuk menyimak mama daripada menyentuh cangkir teh itu.

Antara mama dan aku rupanya banyak kesamaan pikiran, pendapat bahkan dari segi prinsip. Ah, Tuhan, Maha Baiknya Engkau kentara saat itu. Aku didawuhi banyak hal. Semakin terlihat mama adalah sosok yg begitu menjawai, dan ramah. Tentang sekolahku, tentang karirku nanti, dan tak sungkan mama juga menyinggung masalah jodoh dan pernikahan. Hahaha, aku malu saat itu. Mungkin wajahku tak ubahnya seperti kepiting rebus. MERAH PADAM.
Tapi, sekali lagi, aku sangat bahagia merasakan tiap menit yg berjalan, tiap kata yang aku cermati dari mama.
"Sudahlah, apapun yang kamu lakukan, insyaALLAH tante dukung." Aku terpana. Aku tak pernah menyangka satu senja aku habiskan dengan nyaman bersama keluargamu a'. Meski, sampai kini pun aku masih belum diberi kesempatan untuk mengenal aa' secara langsung. Biar waktu yg Tuhan sebagai empunya saja yg mengatur. Aku yakin, cepat atau lambat, pasti aku dan aa' bisa saling tau. Semoga aku diberi kesabaran penuh untuk menunggu perkenalan kita.
Kita ini sedang bermain dengan takdir kan a'? Aku harap kita tak membodohinya. Kita mengalur seperti apa yg sudah ditetapkan :')
"Dulu tante memilih abahnya zahara ini bukan karena cinta, Nak. Tapi tante memilih abah karena tante menganggap suami adalah teman berjuang seumur hidup. Wong padahal dulu tante juga sedang menunggu seseorang yang masih study ke Kanada. Hehehe"
Mama selalu saja begitu. Menitikkan kata katanya dengan tertawa renyah. Mengakrabkan suasana.
Aku membatin "Iya, suatu saat, jika aku sudah boleh memilih, aku akan memilih suami yg bisa dengan lugasnya aku ajak menjadi teman berjuang. Aa' mungkin ya yang aku pilih? Hehee"
Aku selalu tersenyum usainya.
"Hati-hati di jalan." Abah mengucapkannya begitu takzim. Mengantar pamitku untuk pulang.

* Sampai sekarang, cerita itu menjadi satu yang aku banggakan.
Aku mulai mencintai keluargamu a'.
Sujud syukur untuk Sang Maestro sejagad, telah menciptakan konspirasi alam yang begitu menakjubkan. Terima kasih untuk Mbak Zahara, Mama, Abah dan Dinda yang sudah legowo menerima aku. Dan aa', jika bukan karenamu bagian ini tak pernah menjadi rangkaian kisah yang indah.



With Love,


Aisya Dz. ♥

0 komentar:

Poskan Komentar